Thursday, 20 September 2018

Kebangsaan Bung Karno



Selasa, 3 Desember 1918, Bung Karno menatap rona jingga elegi senja. Berdiri di Gang Ramlun, Jalan Donasa, Sidoarjo, Jawa Timur, Bung Karno menatap langit Barat, bersama jiwa terguncang kelu bertikam tanya. Kala itu, kuasa kolonialis-imperalis menghablur di semesta jelujur Nusantara, serupa pumpunan laron-laron liar, merangsak dari Negeri Belanda. Bung Karno bertanya kepada kemurnian jiwa batinnya sendiri, ihwal apa dan mengapa penjajahan membahana, di sekujur bentangan Nusantara. Menjelang suar senja penghabisan, awan ufuk lagit Barat berbiorama tipis-tipis, justru saat Bung Karno kian tak kuasa menahan tumpah airmatanya, bergurat pedih bersumur lara.

“Oh, negeriku,” ucap jiwa batin Bung Karno. “Engkau terus ternista kuasa angkara murka, menjinjing bedil dari Negeri Belanda. Kini kurenda sepenuhnya takdir kalahmu. Hingga suatu saat kelak denting pembebasan datang menyambar melampaui segala pekik halilintar. Dan kaum penjajah sepenuhnya pulang kembali ke kandang.” Sejak saat itu, Bung Karno merenungi hakikat kabangsaan untuk Indonesia yang kelak mutlak merdeka.

Bagaimana sesungguhnya kebangsaan dalam perspektif filosofis Bung Karno? Menelisik algorithma aljabar bertajuk Humanitas Bung Karno, tampak jelas konsepsi kebangsaan Bung Karno. Kebangsaan mempertautkan secara hakiki tanggung jawab kepemimpinan nasional pada ranah negara menggapai tujuan luhur tegaknya keadilan rakyat semesta. Algorithma aljabar ini terdedah sebagai tafsir profetikal atas segala luasan kesadaran Bung Karno mempelikat seluruh lekukan makna kebangsaan yang niscaya memartabatkan Indonesia sebagai bangsa. Hanya melalui algorithma aljabar inilah, generasi masa kini bangsa Indonesia mampu membeber subtansi transenden di kedalaman hakikat etika politik Bung Karno.

Dalam aksentuasi psiko-kultural Bung Karno, kebangsaan berekuivalensi dengan kemanusiaan. Seluruh diskursus berkenaan dengan kebangsaan mutlak bersukmakan pemberangusan seluruh bagan eksploitasi manusia oleh manusia. Penjajahan bersimaharajalela di seluruh bentangan Nusantara, harus tersimpulkan sebagai dentuman rekayasa eksploitasi manusia oleh manusia. Segala lekatan kelemahan bangsa Nusantara hingga kemudian rakyat se-Nusantara terpojokkan sebagai pecundang, mutlak dipahami sebagai dasar tergelorakannya eksploitasi manusia oleh manusia, dengan kaum kolonialis-imperialis berjumawa sebagai pemenang utamanya. Sangat bisa dimengerti pada akhirnya, mengapa kebangsaan Bung Karno berkesetaraan makna dengan Humanitas Bung Karno.

Aksioma kebangsaan yang ekuivalen dengan humanitas ini justru meneguhkan konsepsi etik politik Aristotelian, khas Bung Karno. Alexander the Great di Yunani kuno merumuskan hal serupa dengan yang disadari  Bung Karno, bahwa kebangsaan setara dengan humanitas, sehingga glorifikasi kebangsaan serupa dengan pemuliaan humanitas. Ini berarti, pembebasan Nusantara dari belenggu penjajahan terposisikan sebagai teladan kebajikan bagi bangsa-bangsa lain di dunia melawan belenggu perbudakan dalam bingkai kolonialisme-imperialisme. Persis sebagaimana kemudian termaktub ke dalam tulisan dan wacana Bung Karno, kebangsaan Indonesia benar-benar berkonjuksi dengan internasionalisme untuk terciptanya perdamaian dunia.[]

Donasi untuk editorial ini dapat dikirim ke : 0840411109 (BCA).

No comments:

Post a Comment