Selasa, 3 Desember 1918, Bung Karno menatap rona jingga elegi senja. Berdiri
di Gang Ramlun, Jalan Donasa, Sidoarjo, Jawa Timur, Bung Karno menatap langit
Barat, bersama jiwa terguncang kelu bertikam tanya. Kala itu, kuasa kolonialis-imperalis
menghablur di semesta jelujur Nusantara, serupa pumpunan laron-laron liar, merangsak
dari Negeri Belanda. Bung Karno bertanya kepada kemurnian jiwa batinnya sendiri,
ihwal apa dan mengapa penjajahan membahana, di sekujur bentangan Nusantara. Menjelang
suar senja penghabisan, awan ufuk lagit Barat berbiorama tipis-tipis, justru saat
Bung Karno kian tak kuasa menahan tumpah airmatanya, bergurat pedih bersumur
lara.
“Oh, negeriku,” ucap jiwa batin Bung Karno. “Engkau terus ternista kuasa
angkara murka, menjinjing bedil dari Negeri Belanda. Kini kurenda sepenuhnya
takdir kalahmu. Hingga suatu saat kelak denting pembebasan datang menyambar
melampaui segala pekik halilintar. Dan kaum penjajah sepenuhnya pulang kembali
ke kandang.” Sejak saat itu, Bung Karno merenungi hakikat kabangsaan untuk
Indonesia yang kelak mutlak merdeka.
Bagaimana sesungguhnya kebangsaan dalam perspektif filosofis Bung Karno? Menelisik
algorithma aljabar bertajuk Humanitas
Bung Karno, tampak jelas konsepsi kebangsaan Bung Karno. Kebangsaan mempertautkan
secara hakiki tanggung jawab kepemimpinan nasional pada ranah negara menggapai tujuan
luhur tegaknya keadilan rakyat semesta. Algorithma aljabar ini terdedah sebagai
tafsir profetikal atas segala luasan kesadaran Bung Karno mempelikat seluruh
lekukan makna kebangsaan yang niscaya memartabatkan Indonesia sebagai bangsa. Hanya
melalui algorithma aljabar inilah, generasi masa kini bangsa Indonesia mampu
membeber subtansi transenden di kedalaman hakikat etika politik Bung Karno.
Dalam aksentuasi psiko-kultural Bung Karno, kebangsaan berekuivalensi dengan
kemanusiaan. Seluruh diskursus berkenaan dengan kebangsaan mutlak bersukmakan
pemberangusan seluruh bagan eksploitasi manusia oleh manusia. Penjajahan bersimaharajalela
di seluruh bentangan Nusantara, harus tersimpulkan sebagai dentuman rekayasa eksploitasi
manusia oleh manusia. Segala lekatan kelemahan bangsa Nusantara hingga kemudian
rakyat se-Nusantara terpojokkan sebagai pecundang, mutlak dipahami sebagai dasar
tergelorakannya eksploitasi manusia oleh manusia, dengan kaum
kolonialis-imperialis berjumawa sebagai pemenang utamanya. Sangat bisa
dimengerti pada akhirnya, mengapa kebangsaan Bung Karno berkesetaraan makna dengan
Humanitas Bung Karno.
Aksioma kebangsaan yang ekuivalen dengan humanitas ini justru meneguhkan
konsepsi etik politik Aristotelian, khas Bung Karno. Alexander the Great di
Yunani kuno merumuskan hal serupa dengan yang disadari Bung Karno, bahwa kebangsaan setara dengan humanitas,
sehingga glorifikasi kebangsaan serupa dengan pemuliaan humanitas. Ini berarti,
pembebasan Nusantara dari belenggu penjajahan terposisikan sebagai teladan
kebajikan bagi bangsa-bangsa lain di dunia melawan belenggu perbudakan dalam bingkai
kolonialisme-imperialisme. Persis sebagaimana kemudian termaktub ke dalam
tulisan dan wacana Bung Karno, kebangsaan Indonesia benar-benar berkonjuksi
dengan internasionalisme untuk terciptanya perdamaian dunia.[]

No comments:
Post a Comment