Negarawan kesohor Amerika Serikat, Abraham Lincoln, secara repetitif
berucap: America for the American. Ditera
sekilas pintas, ucapan ini berpelikat auturkis, Amerika hanya untuk rakyat
Amerika, full stop. Apalagi, 872 kali
Abraham Lincoln beretorika ihwal America
for the American. Kini, setelah waktu merentang selama 153 tahun sejak
kematiannya yang tragis terbantai bengis empat orang pembunuh bayaran, relevan
tersuarnya satu pertanyaan filosofis. Benarkah Abe mengaksiomakan Amerika
Serikat auturkis?
Di tubir pantai Pasadena, 15 Agustus 1863, Abe berbicara dengan Abdul Rauf
Hamman Alhadad. Abe membuka semesta selubung filosofis di balik narasi America for the American. “Amerika takkan pernah terjerembab ke dalam
jurang auturkisme, selama Patung Liberty masih menuai asa kebaruan gemuruh
demokrasi.” Ucapnya lagi, “Justru, America
for the American, terposisikan sebagai kalimatun
syawa’ bagi pengutuhan demokrasi dalam jantung rindu bangsa Amerika.” Dalam
rentang waktu panjang hingga ke pelataran masa depan, Amerika menera makna
pendewasaan dirinya sendiri, bersih dari semesta ambisi mencampurtangani urusan
bangsa-bangsa lain.
Delapan jam pembicaraan bersama Hamman di Pasadena, Abe memungkaskan seluruh
substansi makna narasi America for the
American. Sembari menjabat tangan Hamman, Abe berkata, “Legonne
manankayaeoneo lamangga nawalanggalangga.” Apa makna kalimat ini? Dalam perjalanan
kembali ke Jawa Timur, Hamman menjelaskan kepada kerabatnya, bahwa ucapan Abe
ihwal Legonne manankayaeoneo lamangga
nawalanggalangga bermakna: Merapal
keagungan diri sendiri melalui menyingkapan skemata sel punca. Maka, America for the American adalah alegori
filosofis Abraham Lincoln berkenaan dengan tantangan besar bangsa Amerika,
berpusar di titik penyelesaian masalah sel punca, dalam jangka panjang.
Bila kini tera ulang terhadap taklimat America
for the American adalah sel punca, maka semesta catatan politik serta
kumandang demokrasi Abraham Lincoln telah sedemikian rupa menubuahkannya
menjadi kenyataan. Dalam perfeksi imajinatif kedigdayaan dan harga diri bangsa
Amerika di Planet Bumi, mantra America
for the American adalah aksioma sel punca itu sendiri. Berpijak pada prinsip
dasar konjunksi kosmologi, sel punca dimaksud tersuguhkan sebagai binar keelokan
aksioma ekuivalensi aljabar: ℧ ⎌ ⦽(0) Ҩ⦰⧲ ⍤⎍⍣ (0{ᶘ}0) Γ(0) ⥅ ᴥ ⥆ γ(0) (ϑ{θ}Θ) ⍤⎍⍣ ⌽⧳Ѻ ≬(0) ⎌ Ω. Inilah sesungguhnya,
luasan sel punca yang termanifestasikan melalui gagasan demokratis Abraham
Lincoln. Sementara ketuntasan penorehannya, termaktub ke dalam algorithma filosofis
Abdul Rauf
Hamman Alhadad, di Ilanghiro, Jawa Timur, bertarikh 18 Maret 1864.
Baik Abe maupun Hamman, bersekufu ihwal hakikat
makna sel punca dalam rengkuh kedigdayaan serta harga diri bangsa Amerika. Substansi mendasar
sel punca, clear and distinct, pemaknaan
aorta. Kini, dari keheningan sunyi Ilanghiro, suara Abe serasa terdengar
bening: Wahai bangsa Amerika, kenalilah aorta dirimu sendiri.[]
Donasi untuk editorial ini dapat dikirim ke : 0840411109 (BCA).
No comments:
Post a Comment