Monday, 17 September 2018

Tera Ulang Abraham Lincoln


Negarawan kesohor Amerika Serikat, Abraham Lincoln, secara repetitif berucap: America for the American. Ditera sekilas pintas, ucapan ini berpelikat auturkis, Amerika hanya untuk rakyat Amerika, full stop. Apalagi, 872 kali Abraham Lincoln beretorika ihwal America for the American. Kini, setelah waktu merentang selama 153 tahun sejak kematiannya yang tragis terbantai bengis empat orang pembunuh bayaran, relevan tersuarnya satu pertanyaan filosofis. Benarkah Abe mengaksiomakan Amerika Serikat auturkis?

Di tubir pantai Pasadena, 15 Agustus 1863, Abe berbicara dengan Abdul Rauf Hamman Alhadad. Abe membuka semesta selubung filosofis di balik narasi America for the American.  “Amerika takkan pernah terjerembab ke dalam jurang auturkisme, selama Patung Liberty masih menuai asa kebaruan gemuruh demokrasi.” Ucapnya lagi, “Justru, America for the American, terposisikan sebagai kalimatun syawa’ bagi pengutuhan demokrasi dalam jantung rindu bangsa Amerika.” Dalam rentang waktu panjang hingga ke pelataran masa depan, Amerika menera makna pendewasaan dirinya sendiri, bersih dari semesta ambisi mencampurtangani urusan bangsa-bangsa lain.

Delapan jam pembicaraan bersama Hamman di Pasadena, Abe memungkaskan seluruh substansi makna narasi America for the American. Sembari menjabat tangan Hamman, Abe berkata, “Legonne manankayaeoneo lamangga nawalanggalangga.”  Apa makna kalimat ini? Dalam perjalanan kembali ke Jawa Timur, Hamman menjelaskan kepada kerabatnya, bahwa ucapan Abe ihwal Legonne manankayaeoneo lamangga nawalanggalangga bermakna: Merapal keagungan diri sendiri melalui menyingkapan skemata sel punca. Maka, America for the American adalah alegori filosofis Abraham Lincoln berkenaan dengan tantangan besar bangsa Amerika, berpusar di titik penyelesaian masalah sel punca, dalam jangka panjang.

Bila kini tera ulang terhadap taklimat America for the American adalah sel punca, maka semesta catatan politik serta kumandang demokrasi Abraham Lincoln telah sedemikian rupa menubuahkannya menjadi kenyataan. Dalam perfeksi imajinatif kedigdayaan dan harga diri bangsa Amerika di Planet Bumi, mantra America for the American adalah aksioma sel punca itu sendiri. Berpijak pada prinsip dasar konjunksi kosmologi, sel punca dimaksud tersuguhkan sebagai binar keelokan aksioma ekuivalensi aljabar: (0) Ҩ⦰⧲ (0{}0) Γ(0) γ(0) (ϑ{θ}Θ) ⌽⧳Ѻ (0) Ω. Inilah sesungguhnya, luasan sel punca yang termanifestasikan melalui gagasan demokratis Abraham Lincoln. Sementara ketuntasan penorehannya, termaktub ke dalam algorithma filosofis Abdul Rauf Hamman Alhadad, di Ilanghiro, Jawa Timur, bertarikh 18 Maret 1864.

Baik Abe maupun Hamman, bersekufu ihwal hakikat makna sel punca dalam rengkuh kedigdayaan serta harga diri bangsa Amerika. Substansi mendasar sel punca, clear and distinct, pemaknaan aorta. Kini, dari keheningan sunyi Ilanghiro, suara Abe serasa terdengar bening:  Wahai bangsa Amerika, kenalilah aorta dirimu sendiri.[]

Donasi untuk editorial ini dapat dikirim ke : 0840411109 (BCA).

No comments:

Post a Comment